K.H Noer Ali

Zaman revolusi telah melahirkan banyak tokoh yang gagah berani dan memiliki kecakapan di bidang keilmuan serta taktik pertempuran. Salah satunya dalah K.H Noer Ali, beliau dilahirkan di Oejoeng Malang atau sekarang disebut dengan Ujung Harapan, Bekasi, pada 1914 M. Ayahnya bernama Anwar bin Layu dan ibunya Maemunah binti Tarbin.

Kiprah perjuangan KH Noer Ali sangat besar terutama di Bekasi, berkat kiprahnya dalam perjuangan Indonesia sampai ada ungkapan bukan orang Bekasi jika tidak mengenal K.H Noer Alie. Wajar saja kemudian beliau diberi gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 2006.

Beliau adalah ulama dan pejuang yang sempat menimba ilmu di Mekah dan baru pulang pada tahun 1940. Setibanya di kampung halaman, beliau berusaha mendirikan pesantren, hal itu dilandasi oleh keyakinan kemajuan hanya bisa diperoleh melalui pendidikan. Akhirnya pada tahun 1956 beliau berhasil  mendirikan Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (YP3) Pendidikan. Pada 17 Desember 1986, Yayasan itu berganti nama dengan Yayasan Attaqwa atau Pondok Pesantren Attaqwa.

Ketika Indonesia merdeka beliau terpilih menjadi Ketua Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Cabang Babelan. Ketika diselengarakan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Jakarta, pada tanggal 19 September 1945 beliau mengerahkan massa untuk hadir. Beliau lah yang memimpin pertempuran melawan Belanda di Pondok Ungu, 29 September 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan dan juga gerilya-gerilya lain.

Masyarakat mengenal beliau dengan Singa Karawang-Bekasi karena keberaniannya melakukan perlawanan terhadap penjajah. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Laskar Rakyat Bekasi untuk mempertahankan kemerdekaan, kemudian juga menjadi Komandan Batalyon III Hizbullah Bekasi. Jabatan-jabatan itu bukanlah hal main-main, jika bukan karena kemampuannya yang mumpuni tidak mungkin beliau bisa mengembannya. Beliau bersama Jenderal Oerip Soemohardjo juga mendirikan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah.

KH Noer Ali juga dikenal sangat licin dan sulit ditangkap, karena itu beliau dijuluki oleh Belanda dengan si Belut Putih. Ada suatu kisah, ketika KH Ali Noer memasuki masjid dan kaki tangan Belanda bersenjata melihat, sandalnya di depan masjid langsung dijaga. Begitu ditunggu berapa lama beliau tidak keluar, kaki tangan Belanda pun penasaran. Ketika menengok ke dalam masjid ternyata KH Ali Noer sudah tidak ada. Beliau begitu cepat menyadari keberadaan kaki tangan Belanda dan gesit meloloskan diri.